Sebelum masuk lebih dalam pada pembahasan tentang cara strategis produksi tas, saat ini tentu kita semua setuju bukan jika di era modern, keberadaan dari adanya sebuah tas hendaknya memang sudah cukup lama bergeser dari yang tadinya mungkin hanya sekadar dijadikan sebagai alat angkut barang saja menjadi sebuah instrumen penting yang dapat dimanfaatkan dalam penampilan dan gaya hidup. Bahkan dapat dikatakan jika keberadaan tas ini hendaknya memang sudah menjadi bagian dari pernyataan gaya (fashion statement) sekaligus investasi fungsional, yang cukup menguntungkan di era modern ini.
Karena seperti dapat kita ketahui bersama, jika pada era era saat ini sering kali keberadaan tas memang dikenal sudah menjadi bagian dari centerpiece atau pusat perhatian dari keseluruhan gaya pakaian yang melekat, dan dianggap bisa langsung mengubah vibes penampilan seseorang pula. Mengingat, adanya pernyataan tersebut pun hendaknya juga semakin didukung pula oleh bagaimana pilihan model tas saat ini sendiri yang sudah semakin beragam. Dimana berbeda model, biasanya akan berbeda pula vibe yang dihasilkan, misalnya saja seperti penggunaan model tas ransel yang tampak lebih casual minimalis.
Sehingga membuat tas dengan model ini serta turunannya, seperti crossbody bag hingga waist bag umumnya akan dianggap sebagai tas unisex yang bisa dipakai untuk berbagai macam agenda atau gaya casual hingga semi formal. Sedangkan lain halnya dengan penggunaan tas model hand bag atau clucth bag yang biasanya akan lebih terlihat elegan, sehingga membuat tas dengan jenis ini umumnya dianggap lebih cocok untuk digunakan pada tipe agenda atau gaya yang mengarah pada kesan semi formal sampai formal, meskipun kembali lagi hal tersebut pun akan bergantung lagi pada detail spesifikasinya.
Yang mana, didasarkan oleh berbagai vibe maupun tampilan dan nilai fungsionalnya tersebut, dapat dikatakan jika keberadaan dari sebuah tas dalam kehidupan sehari hari umat manusia pun hendaknya juga dikenal bisa menjadi bagian dari investasi fungsional pula. Dimana kata “investasi” di sini sendiri pun sebetulnya juga tidak hanya melulu soal menjual kembali tas dengan harga lebih tinggi (meski untuk beberapa tas luxury tertentu hal itu memang terjadi), melainkan lebih dari itu justru mengarah kepada bagaimana tas tersebut bisa menjadi barang investasi jangka panjang terhadap utilitas dan efisiensi.
Mengingat, penggunaan tas ini sendiri yang pada dasarnya juga tidak hanya banyak dipakai untuk menunjang gaya atau kebutuhan pribadi saja, melainkan lebih dari itu diketahui tidak sedikit juga yang mulai memanfaatkan tas guna kepentingan yang lebih general atau komersial. Misalnya saja seperti tas yang kini banyak dipakai sebagai wadah merchandise, souvenir, seminar kit, hampers, hingga parcel dan sejenisnya. Dan penggunaan tas tersebut pun tentu juga bukan lagi hanya sekedar wadah atau barang fashion saja, melainkan juga dimanfaatkan sebagai alat branding dan promosi jangka panjang pula.
Oleh sebab itu, agar nantinya penggunaan atau kepemilikan tas dapat sungguhan bisa memberikan investasi jangka panjang terhadap utilitas dan efisiensi, serta bisa difungsikan sebagaimana tujuan, khususnya dalam hal ini untuk jenis tas guna keperluan komersial yang biasanya memiliki peranan maka ada baiknya untuk mempertimbangkan selalu durabilitas, kualitas dan juga fungsionalitas, selain daripada nilai visualitasnya memang dalam hal ini dianggap sebagai hal mutlak. Dan untuk bisa mendapatkan tas dengan spesifikasi tersebut, tentu dibutuhkan adanya produksi tas yang baik.
Daftar Isi
ToggleCara Strategis Produksi Tas Menjadi Karya Siap Jual!
Menjadi komponen penting yang memiliki nilai guna tinggi, secara tidak langsung memang menjadikan tas masa kini umumnya akan sengaja dirancang dengan spesifikasi teknis yang matang, mulai itu dari tampilan fisiknya hingga penggunaan jenis materialnya, untuk menjamin jika tas tersebut diproduksi bukan hanya sebagai item fashion penunjang penampilan, tetapi juga bisa sungguhan bisa menjadi bagian dari investasi untuk melindungi barang barang, juga efisiensi portabilitas, yang bisa dibilang memang sangat dibutuhkan untuk menunjang gaya hidup modern yang terkenal dengan produktivitas.
Dimana didasarkan oleh alasan itu pula lah, tentu sangat wajar bukan jika keberadaan dari adanya sebuah tas ini umumnya dianggap sebagai perpaduan sempurna antara arsitektur portabel (fungsi) dan seni visual yang bisa dipakai (estetika). Sehingga ketika kita bisa memilih tas yang tepat, secara tidak langsung hal tersebut diibaratkan seperti sedang berinvestasi pada kenyamanan mobilitas sekaligus mempertegas identitas gaya. Tetapi bermula dari pernyataan itu juga lah, kini banyak para pelaku usaha atau generasi kreatif dan kreator muda yang mulai tertarik menjadikan bisnis tas sebagai tantangan.
Yang mana, dapat diketahui jika tidak sedikit dari mereka yang memiliki pemikiran untuk mengubah sebuah kain sederhana menjadi produk bernilai jual tinggi, khususnya dalam hal ini adalah untuk jenis produk seperti tas, karena dianggap sebagai komoditas yang nilai gunanya tidak akan pernah mati atau surut. Namun tentu saja, perkara pembentukan sebuah kain menjadi karya produk tas yang idamkan pun sudah pasti bukan hanya sekadar soal menjahitnya menjadi rapi saja, melainkan juga tentang bagaimana produsen tas bisa menyuntikkan nilai tambah (value-added) ke dalam setiap seratnya.
Upaya Mengubah Selembar Kain Menjadi Produk Tas yang Bernilai:

Walaupun memiliki banyak bayangan tentang cara strategis produksi tas, tetap saja tidak dapat dipungkiri begitu saja jika ide pengadaan tas yang hebat di kepala hendaknya hanya akan tetap menjadi bagian dari “selembar kain biasa” jika tidak dieksekusi dengan strategi yang matang. Karena supaya bisa berhasil mengubah selembar kain menjadi produk bernilai tinggi, pada akhirnya kita memang harus melibatkan proses mengawinkan keterampilan teknis dengan kepekaan terhadap kebutuhan manusia. Dan adapun beberapa upaya untuk mengusahakan hal tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut ini:
Temukan Unique Selling Proposition melalui Cerita
Di pasar yang kini sudah padat dengan berbagai macam pilihan produk tas, tentu sebagai produsen yang memiliki keinginan untuk mengimplementasikan cara strategis produksi tas, hendaknya kita diharuskan untuk memiliki kemampuan untuk menemukan satu alasan kuat mengapa konsumen harus memilih tas yang diproduksi dibanding ribuan tas lain di pasar. Dimana alasan yang bisa dipakai pun tidak melulu soal spek teknis saja, melainkan bisa juga dibangun lewat narasi tentang idealisme, proses kreatif, dan dampak positif di balik proses pembuatannya untuk menyampaikan nilai lebih dari karya produk tas.
Misalnya saja seperti dengan memberikan disclaimer jika tas tersebut menggunakan cara strategis produksi tas yang melibatkan sentuhan seni dan teknik khusus, contohnya seperti diolah dengan teknik eco-printing, atau dibuat menggunakan keterampilan handcrafted yang unik pada setiap sudutnya untuk mendongkrak nilai produk dari komoditasnya menjadi barang seni yang eksklusif. Apalagi saat ini narasi keberlanjutan pun hendaknya juga dikenal sangat relevan, karena konsumen modern kini sangat peduli pada isu lingkungan, dan menjadikan hal itu sebagai Unique Selling tentu adalah keputusan yang bijak.
Kedepankan Desain yang Fungsional dan Ergonomis
Bisa dibilang jika konsumen modern saat ini merupakan pribadi pribadi yang sangat rasional, dimana secara garis besar umumnya mereka bersedia membayar harga premium untuk sebuah tas jika mereka tahu bahwa tas tersebut tidak hanya akan membuat penggunaan terasa nyaman dan bisa mengamankan barang bawaan dengan sempurna dalam jangka panjang saja, tetapi juga memiliki nilai guna yang jauh lebih tinggi, karena berhasil dengan matang menggabungkan estetika dengan fungsi secara sempurna. Oleh sebab itu, perkara mengubah selembar kain menjadi tas bernilai pun dianggap sebagai hal wajib.
Dimana untuk bisa mewujudkan hal tersebut, umumnya sebagai produsen tas yang memiliki segudang cara strategis produksi tas, kita hendaknya akan selalu diharuskan untuk bisa mengedepankan perkara desain yang fungsional dan ergonomis pula. Karena dengan hal tersebut, itu berarti kita tidak hanya akan membuktikan diri yang fokus pada bagaimana tas tersebut bisa terlihat indah di mata (estetika) saja, melainkan juga tentang bagaimana tas itu nantinya akan bekerja dengan baik ketika digunakan manusia, yang tentu saja dalam hal ini berkaitan dengan utilitas dan kenyamanan pada penggunaannya.
Kemasan dan Branding yang Menjual
Tidak dapat dipungkiri jika sering kali hal yang membuat sebuah produk tas bisa dinilai “mahal” atau “murah” pertama kali juga adalah karena presentasi visualnya, yang dalam hal ini sendiri biasanya berkaitan dengan kemasan serta branding yang menjual. Dimana untuk bisa mewujudkan hal tersebut, tentu sebagai produsen tas kekinian kita diharuskan untuk bisa memberikan identitas visual yang profesional pada produk guna memberikan kesan bahwa produk tersebut memang dikerjakan dengan serius. Selain itu, penting pula untuk memperhatikan tampilan kemasan untuk mengubah transaksi biasa menjadi sebuah pengalaman yang berkesan bagi konsumen.
Langkah Langkah Cara Produksi Tas:

Mengetahui langkah atau cara strategis produksi tas, dalam hal ini dapat dikatakan sebagai sesuatu perkara yang penting, bahkan dapat dikatakan sebagai pondasi utama jika ingin terjun ke dunia bisnis tas dan ingin mengubah selembar kain biasa menjadi produk bernilai jual tinggi. Karena tidak dapat dipungkiri, jika adanya langkah atau tindakan tersebut hendaknya memang merupakan proses yang umumnya akan melibatkan penggabungan antara ketelitian teknis, perhitungan matematis, dan seni visual, sehingga setiap prosesnya perlu dibahas, dari awal hingga siap jual, seperti berikut ini
Tahap Perencanaan dan Desain (Designing)

Dalam cara strategis produksi tas, langkah atau cara pertama yang perlu dilalui terlebih dahulu adalah tahap perencanaan dan desain (Designing), yang dalam hal ini tentu saja bukan hanya sekadar aktivitas menggambar tas yang bagus di atas kertas, tetapi juga menjadi permulaan dari seluruh proses produksi yang akan berjalan. Karena segala sesuatunya tentu saja akan bermula dari ide di atas kertas, yang kemudian akan menentukan arah visual dan fungsionalitas tas yang akan dibuat. Oleh sebab itu dapat dikatakan jika tahapan perencanaan ini adalah tahap permulaan atau pembuka yang kompleks.
Mengingat pada cara strategis produksi tas ini lah, produsen akan mengawinkan antara estetika (keindahan), fungsi (kegunaan), dan aspek finansial (biaya produksi), hingga seluruh kombinasi tersebut dapat menghasilkan produk tas yang bernilai tinggi. Dan adapun beberapa upaya atau langkah yang perlu dilakukan pada pelaksanaan tahap ini sendiri, diantaranya adalah seperti dengan melakukan market research untuk menentukan target konsumen. Membuat conceptual sketching dengan membuat sketsa kasar dan mood board dari model atau jenis tas yang nantinya akan diproduksi.
Menentukan technical specification yang terdiri dari detail fungsi tas secara matematis, mulai itu dari dimensi, detail kompartemen, serta keergonomisan tas. Memilih jenis material utama yang akan dipakai beserta dengan perhitungan biaya supaya tidak melebihi target biaya produksi. Hingga membuat tech pack, atau lembar spesifikasi produksi yang umumnya akan berisikan gambar detail tas lengkap dengan ukuran dimensinya, catatan jenis bahan dan aksesoris yang digunakan di setiap bagian, serta instruksi khusus guna memastikan proses produksi tas selanjutnya dalam berjalan lancar dan tepat.
Pembuatan Pola (Pattern Making)

Proses selanjutnya yang umumnya juga menjadi bagian dari langkah atau cara strategis produksi tas adalah pembuatan pola atau pattern making. Karena dapat diketahui jika pola ini hendaknya adalah cetakan atau panduan berbentuk 2 dimensi yang umumnya akan digunakan untuk memotong bahan, sehingga secara tidak langsung memuat keberadaan pola yang akurat sangat krusial, supaya bentuk tas yang dihasilkan nantinya dapat tampak simetris dan presisi saat dijahit, sesuai dengan hasil designing.
Dan karena dalam cara strategis produksi tas, pembuatan pola (Pattern Making) ini hendaknya adalah sebuah proses menerjemahkan ide visual dari sketsa desain dua dimensi (2D) menjadi cetakan atau panduan potongan potongan komponen berukuran presisi, yang nantinya menjadi cetak biru (blueprint) saat memotong bahan baku. Secara tidak langsung hal tersebut memang membuat perkara pembuatan pola secara strategis bukan hanya sekadar tentang menggambar garis di atas kertas tebal saja, melainkan seni menghitung efisiensi produksi, struktur kekuatan tas, dan konsistensi kualitas produk massal juga.
Oleh sebab itu, untuk memastikan jika sebuah pola tas betulan siap masuk ke lini produksi strategis, umumnya pola tersebut harus memuat informasi teknis yang lengkap di setiap lembarnya, yang diantaranya saja terdiri dari cutting line, yaitu batas gunting atau pisau pond memotong kain. Seam allowance, dengan jarak ekstra biasanya 0,8 cm hingga 1,2 cm dari tepi kain ke baris jahitan. Notches, yang berfungsi sebagai penanda bagi penjahit untuk menyatukan satu komponen dengan komponen lainnya, juga informasi komponen yang berisikan nama nama bagian konstruksi tas.
Pemotongan Bahan (Cutting)

Setelah pola selesai dibuat, maka langkah atau cara strategis produksi tas selanjutnya yang umumnya perlu dilakukan adalah memindahkan bentuk tersebut ke atas kain atau material utama, kemudian melakukan pemotongan bahan atau cutting. Dimana dapat diketahui jika tindakan pemotongan bahan ini hendaknya bukan sekadar aktivitas memotong kain dengan gunting sesuai pola saja, melainkan sebuah proses teknis yang terukur untuk mengubah lembaran material mentah menjadi komponen komponen tas yang siap rakit dengan tingkat akurasi tinggi dan pemborosan (waste) yang minimal.
Selain itu bisa dibilang pula jika tahap pemotongan bahan ini sebetulnya adalah awal mula beralihnya desain 2 dimensi (pola kertas/digital) menjadi wujud 3 dimensi (tas jadi). Sehingga secara keseluruhan dapat dikatakan jika tingkat industri atau produksi strategis ini hendaknya memang harus dilakukan secara presisi, karena sedikit saja kesalahan pada tahap ini tentu bisa berakibat fatal. Mengingat kain dengan kesalahan potong tentu tidak bisa disambung kembali, jadi adanya akurasi dan presisi dalam teknik pemotongan ini dianggap sangat dibutuhkan guna menghindari ketidak simetrisan pola.
Tahap Pra-Perakitan (Pre-Assembly & Preparation)

Sebelum menyatukan seluruh bagian tas yang sudah melalui proses pemotongan bahan, secara umum ada tindakan permulaan yang hendaknya juga perlu dilakukan sebelum mulai menyatukannya secara permanen, yaitu mempersiapkan komponen komponen tersebut terlebih dahulu untuk mempermudah proses menjahit utama. Dimana dapat diketahui jika dalam cara strategis produksi tas, adanya tahap pra perakitan (Pre-Assembly & Preparation) ini sebetulnya memang adalah fase di mana semua potongan bahan utama yang telah dipotong akan disiapkan, diperkuat, dan dicpautkan menjadi bentuk tas utuh.
Oleh sebab itu, dalam prosesnya tahap ini biasanya akan memiliki detail pekerjaan yang dimulai dari pemberian struktur dan penguat agar rangka bisa berdiri tegak, perakitan semua subsistem komponen fungsional, penempatan identitas merek pada kain utama agar presisi, serta pemberian tanda batas atau marking dan notching untuk memastikan saat penjahit utama menyatukan kain depan dan belakang, posisinya tidak miring atau melintir. Karena tidak dapat dipungkiri, jika seluruh detail pekerjaan pada tahap ini hendaknya memang dimaksudkan untuk mempermudah perakitan yang sempurna pada tas.
Tahap Perakitan dan Menjahit (Assembling & Sewing)

Menjadi tahap inti dan titik mula tas akan segera terbentuk dengan sempurna, bisa dibilang juga menjadikan langkah atau cara strategis produksi tas yang berkaitan dengan pekerjaan Assembling dan Sewing atau perkaitan dan menjahit dianggap sebagai tahap penuh resiko serta akan membutuhkan adanya keterampilan tinggi. Karena pada tahap ini, potongan potongan pola yang sebelumnya sudah dirakit mulai disatukan menggunakan mesin jahit, dan menjadi tahapan kompleks karena akan membentuk pola menjadi satu kesatuan produk yang fungsional, estetis, tahan lama, dan efisien biaya.
Yang mana, agar setiap tas yang diproduksi dapat memiliki kualitas seragam, minim kesalahan, dan waktu produksinya cepat, umumnya di tingkat industri atau konveksi profesional, tahap ini akan sengaja diatur menggunakan sistem alur kerja (assembly line) yang ketat, dan dimulai dari membuat logika alur menjahit yang terdiri dari tahap Sub-Assembl, yaitu menyatukan bagian bagian kecil untuk dijahit terpisah terlebih dahulu. Perakitan interior, yaitu tahapan pelapisan bagian dalam tas. Perakitan eksterior, yaitu proses menjahit komponen ke panel kain utama. Dan tahap penyatuan akhir.
Setelah itu lanjut ke tahap selanjutnya, yaitu titik penguatan struktur yang secara strategis berfungsi utama untuk menahan beban dengan menggunakan teknik jahitan bartack atau jahitan silang kotak, dan double stiching. Dan Interiors Seam Finishing menggunakan metode binding atau bisban untuk memotong semua pinggiran kain dan menyatukannya dalam tas lalu dibungkus atau ditutup dengan pita bisban (binding tape)untuk mencegah serat kain keluar, juga metode inversion atau balik, yaitu proses menjahit kain luar dan dalam secara terbalik agar semua tepian kain kasar otomatis terkunci.
Penyelesaian Akhir dan Kontrol Kualitas (Finishing & Quality Control)

Jika seluruh komponen serta pola tas sudah terbentuk utuh, maka langkah terakhir yang perlu dilakukan dalam cara strategis produksi tas adalah memastikan produk tersebut layak pakai dan bernilai jual tinggi melalui tahapan yang dinamakan tahap penyelesaian akhir (finishing) dan kontrol kualitas (quality control). Dan dapat dikatakan jika dilakukannya tahap ini sebetulnya bukan hanya sekadar tahap “bersih-bersih” sebelum tas dimasukkan ke dalam plastik. Melainkan lebih dari itu merupakan benteng pertahanan terakhir yang menentukan apakah sebuah tas layak menyandang predikat produk bernilai.
Maka dari itu, secara strategis, tahap ini hendaknya memang berfungsi untuk menyempurnakan estetika produk sekaligus memastikan bahwa fungsionalitas tas berada dalam kondisi 100% prima sesuai dengan standar merek. Karena pada tahap finishing biasanya proses fisik (Thread Trimming, Steaming, Stuffing dan Spot Cleaning) dimaksudkan untuk menyempurnakan tampilan tas setelah lolos dari mesin jahit, guna memberikan kesan clean, rapi, dan premium saat pertama kali dipegang konsumen. Sedangkan tahap QC akan fokus pada standardisasi dan fungsionalitas guna memastikan tidak ada cacat produksi.
Di tengah ketatnya persaingan industri kreatif saat ini, selembar kain saja tentu tidak akan pernah bisa naik kelas tanpa sentuhan tangan tangan yang presisi dan manajemen produksi yang matang. Dimana di antara deretan produsen tas terbaik di tanah air sendiri, bisa dibilang jika pabrik tas custom Karya Bintang Abadi hendaknya diketahui berhasil hadir sebagai salah satu pelopor yang tidak hanya sekadar membuat tas, melainkan juga merancang sebuah standar mutu, karena dirinya memahami betul bahwa dalam bisnis tas custom, keindahan desain harus berjalan beriringan dengan ketahanan fungsi.
Oleh sebab itu, sebagai salah satu pabrik tas custom andalan, tentu adanya penerapan cara strategis produksi tas yang diadopsi secara disiplin dari hulu ke hilir, menjadi suatu hal penting bagi Karya Bintang Abadi ini, dan menjadikannya secara tidak langsung tampak berbeda dengan konveksi biasa. dikarenakan komitmen mereka yang tanpa kompromi pada tahap Penyelesaian Akhir (Finishing) dan Kontrol Kualitas (Quality Control). Dan adanya pernyataan tersebut pun tentu saja sejalan dengan bagaimana mereka percaya bahwa reputasi klien dipertaruhkan pada setiap tas yang mereka rilis.
Karena memang tidak dapat dipungkiri begitu saja, jika Karya Bintang Abadi ini hendaknya bukan hanya bertugas memproduksi tas saja, tetapi juga menjahit kepercayaan, mengemas kreativitas, dan mendukung langkah setiap customer. Dan dengan segala keunggulan dan kemampuan yang dimilikinya tersebut, tunggu apalagi? Langsung saja hubungi CS Karya Bintang Abadi untuk melakukan pemesanan tas custom guna kepentingan souvenir event maupun media promosi, dengan hasil yang tentu saja memuaskan karena setiap karya produknya dijamin berkualitas tinggi.




